Thursday, January 10, 2013

Gaya Bicara Penyiar Radio (Ilmu Broadcasting Radio)

Gaya Bicara Penyiar Radio (Ilmu Broadcasting Radio)
Gaya Bicara Penyiar Radio (Ilmu Broadcasting Radio)
1. Natural voice –suara alamiah, tidak dibuat-buat, berbicara seperti halnya ngobrol dengan teman di kafe, di telepon, atau di mana pun.
2. Ceria. Kelincahan (vitality) dalam berbicara sehingga dinamis dan penuh semangat, cheerful! Anda harus ceria selalu. Jangan lemas, lunglai, nanti terkesan tidak mood, apalagi ”judes”! Penyiar adalah penghibur, entertainer!
3. Suara diafragma –gunakan suara perut, suara yang keluar dari rongga antara dada dan perut. Untuk itu, perut harus bebas dari segala tekanan, duduk tegak, jangan bungkuk, dan… rileks! Nyatai, tidak tegang, tidak gugup.
4. Conversational –bicara dengan gaya ngobrol, bukan pidato, gunakan bahasa tutur, bahasa percakapan sehari-hari. Jangan gunakan gaya MC di pentas musik atau acara seremonial. Jadi, gak usah teriak juga bicara ”formal”.
5. Senyum –tebar senyuman agar friendly, ramah, hangat, dan enak didengar, memikat pendengar. Tentu, senyum diabaikan saat bicara kasus duka.
6. Atur Nafas –nafas megap-megap tidak akan menghasilkan siaran yang bagus. Bernafas secara tepat adalah dasar siaran profesional.
7. Mental Image, Visualize! –bayangkan sedang berbicara pada seorang teman. Membayangkan adanya seorang pendengar di depan akan membantu berkomunikasi secara alamiah, gaya ngobrol (conversational way). Berbicaralah layaknya kepada teman akrab (intimate friend). Lihat wajah teman Anda itu dalam “pikiran mata” (mind’s eye) Anda.
8. Konsentrasi –agar fokus, tidak ngaco.
9. Eye Contact, Kontak Mata. Bayangkan saja, Anda sedang berbicara dengan seorang teman, di depan Anda, tepat di depan meja siaran. Dijamin, gaya bicara Anda ”conversational” dan ”hangat”.
10. Gesture. Gunakan gerakan tubuh (gesture), meskipun tidak ada orang yang melihat Anda. Anda adalah aktor.
11. Pause, Jeda. Jedalah, diam sejenak, beberapa detik saja, untuk membiarkan pesan Anda sampai ke pendengar. Anda juga bisa jeda jika ”mencari gagasan” atau ”memilih kata” berikutnya.
12. Inflection, Infleksi. Jangan monoton, gunakan ”lagu kalimat” dengan benar; meninggi saat jeda, menurun saat selesai. Jangan khawatir, jika Anda berbicara dengan benar (gaya ngobrol), infleksi otomatis terjadi.
13. Intonasi (intonation) –nada suara, irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga tidak datar atau tidak monoton. Intonasi bisa mengubah makna sebuah kata atau ungkapan!
14. Aksentuasi (accentuation) –penekanan (stressing) pada kata-kata tertentu yang dianggap penting. Aksentuasi dapat dilatih dengan cara menggunakan “konsep suku kata” -dan, yang, di (satu suku kata); minggu, jadi, siap, Bandung (dua suku kata); bendera, pendekar, perhatian (tiga suku kata); dan sebagainya. Ucapkan sesuai penggalan atau suku katanya!
15. Speed. Gunakan kecepatan (speed) dan kelambatan berbicara secara bervariasi. Kecepatan berpengaruh pada kejelasan (clarity), juga durasi.
16. Artikulasi (articulation) — kejelasan pengucapan kata demi kata. Disebut juga pelafalan kata (pronounciation). Jangan salah eja/ucap. (www.romeltea.com).*
Gaya Bicara Penyiar Radio (Ilmu Broadcasting Radio)

Teknik penulisan naskah berita radio (Ilmu Broadcasting Radio)

Teknik penulisan naskah berita radio (Ilmu Broadcasting Radio)
Teknik penulisan naskah berita radio (Ilmu Broadcasting Radio) - Meskipun merupakan media audio, naskah dan berita radio tidak lepas dari tulis menulis. Hanya saja teknik dan bentuk tulisannya sangat berbeda dengan pembuatan naskah berita media cetak. Karena radio mengandalkan telinga pendengar yang kemampuannya terbatas, maka tulisan yang disampaikan harus singkat namun jelas. Dalam teori penulisan berita radio, disebut KISS – Keep It Short and Simple. Agar tidak kaku dan enak didengar, untuk menulis naskah berita radio harus menggunakan bahasa tutur atau bahasa percakapan.

Hal-hal lain yang juga perlu diperhatikan dalam menulis naskah dan berita radio adalah:
  • jangan menggunakan kalimat majemuk
  • jangan menggunakan kata-kata negatif
  • jangan menggunakan kalimat pasif
  • jangan terlalu banyak menggunakan angka-angka apalagi angka-angka rumit. jika terpaksa, harus disederhanakan dengan menggunakan kata ‘sekitar, berkisar, antara, kurang lebih’ dan lain sebagainya
  • jangan terlalu banyak menggunakan singkatan
  • jangan terlalu banyak memakai istilah asing
  • untuk memudahkan penyiar / newscaster, tulis nama, angka atau istilah dalam bahasa asing sesuai cara bacanya. Misalnya: 270 ditulis duaratus tujuhpuluh. Writer ditulis wraiter, dll
  • biasanya pangkat/titel/gelar tidak perlu digunakan, kecuali jika memang terkait erat dengan isi berita
  • ingat, satu berita satu cerita, satu kalimat satu ide
  • biasakan membuat lead atau kepala berita yang bisa menarik perhatian pendengar.
  • durasi berita jangan terlalu panjang
Teknik penulisan naskah berita radio (Ilmu Broadcasting Radio)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India